ada apa sebenarnya?

terlalu banyak tanya
terlalu banyak jawaban

tapi tak ada yang terdengar.
kalau saya genggam kamu lepas dari sela-sela jari saya

kalau saya lepaskan kamu terbang bersama angin

memang tempat kamu bukan saya.
jangan salah sangka.
apa yang ada di balik kata.

siapa yang tahu?
Tahun sudah berganti, Lara
mengapa kamu tetap berduka?

seharusnya dukamu lenyap bersama malam
dan senyummu mengembang bersama mentari.

Tapi kamu tetap berduka, Lara.
kamu enggan menyambut tawa.
dan memilih menyimpan lara.

Lara, ini tahun yang baru.
yang lalu biarlah berlalu.
dia tawarkan senyum untukmu.

Mengapa kamu tetap berduka, Lara?



KARMA POLICE
Radiohead

Karma Police arrest this man
He talks in math
He buzzes like a fridge
He's like a detuned radio

Karma Police arrest this girl
Her Hitler hairdo
makes me feel ill
and we've crashed her party

This is what you get
When you mess with us

For minutes there I lose my mind


bila nanti kasih saya seorang filsuf

A : "Menurut kamu, Plato itu bagaimana?"
B : "Menurutku jenggotnya sangat seksi."

**

sayang, Plato berjenggot atau tidak saja aku tidak tahu. aku hanya mencoba memahamimu melalui sudut pandangku, yang tentunya jauh berbeda dari milikmu.

sayang, jangan berpikir tentang bedanya persepsi kita, mengingat mata untuk memandangnya pun berbeda.

sayang, berhentilah menggunakan otakmu dalam melihat segala suatu. sekali cobalah ijinkan matamu yang memandang. sekali cobalah biarkan indah yang kau nikmati, bukan tafsir.

sayang, kita memang berbeda. tapi jangan terlalu dipikirkan. setidaknya kita punya cinta yang sama. dan itu sudah cukup.

sekali lagi, ambang

tolong biarkan dia di ambang
di mana bukan putih
tapi juga bukan hitam
mungkin keduanya

tolong biarkan dia di ambang
di mana bukan cinta
tapi juga bukan benci
mungkin keduanya

tolong biarkan dia di ambang
di mana dia menjadi
tanpa harus memilih

sebab sekalinya dia menjejak
dia harus memilih.
ini bukan masalah biasa

ini tentang apa yang tertutup
tapi tak bisa terbuka

ini tentang apa yang hujan coba hapuskan
tapi kering sebelum menyentuh tanah

ini tentang apa yang angin coba sampaikan
tapi hanya sekedar lewat berlalu

ini tentang apa yang tak terucapkan
lalu berubah menjadi kenangan

ini tentang apa
hanya Tuhan yang tahu.

yang paling ingin dibahagiakan di bumi ini, sampai mati nanti

ayah dan ibu.

tolong

jangan pegang apapun
kecuali tangan saya
jangan dengar apapun
kecuali suara saya
jangan lihat apapun
kecuali saya
jangan menjadi apapun
kecuali milik saya


sebab hanya untuk sayalah
kamu dicipta.

yang pakai kaus itu :) hei, JODOH

Yang Tak Tersampaikan

oleh hembus angin
oleh nyala api
oleh tetes air
bahkan oleh semesta

dari kerling mata
dari hangat nafas
dari seulas senyum
bahkan oleh saya


hei, tolong! saya CINTA sekali.
and anytime you feel afraid

hey (your name), refrain


DON'T CARRY THE WORLD
UPON YOUR SHOULDER

makin Indie makin nampol : II

just hear another new fantastic album.

erm sebenernya ini bukan buat dibacotin lagi sih... karena album ini sebenernya udah keluar LAMA banget (sekitar 2006 kalo gw gak salah), tapi gw baru denger. basi emang, tapi lagu2nya sih sejujurnya gak basi. kalo gw boleh kasih nama secara random, gw akan sebut album ini "album-basi-yang-sama-sekali-gak-basi". aneh memang, namanya juga random.

lupakan apa yang gw sebutkan di atas. intinya, sekarang gw mau ngebahas tentang satu album solo dari Kartika Jahja (now a vocalist of Tika & The Dissidents). Judul album ini adalah "Defrosted Love Song", dan merupakan suatu album repackage dari album solo dia yang pertama, yakni "Frozen Love Songs". Jangan tanya gw kenapa judulnya harus mengandung kata 'beku' semua. gw juga gatau, Tika gak konsultasi ama gw sih waktu milih judul. (iya garing, lewatkan saja).

here's some review!

Defrosted Love Songs



Aksara Records, 2006.

Tracklist : 01. But I Love You, Though
02. Under Their Feet
03. Waiting for 2.00
05. My Late Ego
06. Saddest Farewell
07. Rimbaud's Limbo
08. Premortem Wound
09. Gugur Sepatu
10. Waiting for 2.3 (Remixed)
11. Still Under Their Feet (Remixed)
12. You Belong to Me

more information (download dsb.), click HERE

seperti yang gw pernah bahas sebelumnya, lagu2nya masih memasukkan unsur dark jazz, gothic, dan muram-muram. tapi entah kenapa, menurut gw, vokal Tika emang BAGUS banget untuk jenis-jenis musik kayak gini. terutama di lagu 'Under Their Feet', waktu dia teriak dengan nada tinggi.

jadi, daripada gw ngebacot makin banyak dan lu semua makin pusing, mending langsung menuju TKP aja, dan buktikan sendiri kata-kata gw dengan mendengar suara emas Tika. enjoy.

Terimakasih (Karena Kamu Ada)

"terimakasih karena kamu sudah ada. cukup ada saja, aku tidak minta lebih."

**

saya bingung dengan idiot satu ini. ya, saya bilang dia idiot, karena saya pikir otaknya sudah berhenti berfungsi. bagaimana tidak, mana ada orang yang berterimakasih kepada saya hanya karena saya ada dan hidup di dunia ini, tanpa pernah berbuat apapun pada dirinya. lebih parah lagi, saya sama sekali tidak mengenal idiot satu ini. dia tiba-tiba saja muncul dari antah berantah, lalu langsung mengucapkan terimakasih pada saya. tidak pernah bertemu, tidak pernah mengenal, tidak pernah berbuat. mengapa ia berterimakasih pada saya?

**

dia pikir aku idiot, terlihat jelas di wajahnya. matanya memandangku remeh, bibirnya mencibirku, aku percaya hatinya sedang sibuk bertanya sambil mengumpatku. tapi semua itu tak apa. seperti yang sudah kukatakan di atas, yang penting dia ada. aku tak peduli apapun pikirnya tentangku, sebab aku memang tak minta lebih dari sekedar keberadaannya, kan?

**Bulleted List
idiot ini masih ada di hadapan saya, dan anehnya saya tak berpikir untuk meninggalkannya. dia tak mengatakan apapun lagi setelah 'terimakasih', dan kini kami hanya saling berpandangan. saya masih menunggu dia untuk mengatakan sesuatu, apa saja. tapi tidak, dia tetap diam, tetap menatap saya. ini membuat saya berpikir bahwa ucapan 'cukup ada saja, aku tidak minta lebih' yang dilontarkannya adalah benar. dia tidak mengharapkan apapun kecuali keberadaan saya. demi Tuhan.

**

aku masih tak percaya. dia tetap ada di sini, tidak menghilang seperti biasanya. ini benar-benar mimpi jadi nyata, imaji menjadi bentuk. aku pikir hal yang ingin kusampaikan diterimanya dengan sempurna! oh, bolehkah aku menyampaikan satu hal lagi untuknya!?

**

idiot itu tampak girang secara mendadak. saya tak mengerti kenapa dia sumringah begini, padahal sedari tadi kami cuma bertatap tanpa bertukar kata. apa semua idiot memang seperti ini, bahkan hening pun dapat membuat mereka gembira? bila benar demikian, sungguh mudah hidup sebagai idiot. tak seperti saya, keheningan ini tidak membuat saya senang, lebih membuat stress bahkan. saya harus secepatnya beranjak dari sini, bila tak ingin tertular menjadi idiot!

**

gawat, sepertinya dia sudah akan menghilang lagi! aku harus cepat mengatakannya sebelum terlambat! hei kamu, tunggulah di sini sebentar! ada hal yang masih ingin kusampaikan!

**

idiot itu menjadi agak panik saat saya menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkannya. mulutnya komat kamit seolah ingin mengatakan sesuatu. hei, dia memang akan mengatakan sesuatu! suara parau terputus-putus keluar dari mulutnya. hei idiot, cepat katakanlah, sebelum saya tertular menjadi sepertimu!

ah, raut wajahnya mengeras, dan sepotong kalimat mengalir dari mulutnya! tak sia-sia saya menunggu sedari tadi! hal penting apakah yang akan dia sampaikan sekarang?

**

"terimakasih karena kamu MASIH ada, dan tetaplah ada! aku tidak meminta lebih."

Dan memang tidak akan lebih, cukup keberadaanmu sudah jadi bahagia bagiku. Terimakasih kamu tetap ada. Ah, aku jadi ingin mengucap lagi karena kamu tetap ada, dan akan terus ada. Bolehkah aku mengucapkannya sekarang? Ah, hei!

**

Memang idiot. Sungguh membuang waktu berada di sini.

**

Dia sudah menghilang lagi, seperti yang biasa terjadi. Tapi tak apalah. Masih ada satu yang ingin kuucapkan.

"Terimakasih karena kamu PERNAH ada. cukup pernah ada, aku tidak akan pernah meminta lebih."

cerita Lara (2)

halo, Lara (s).

tidak, tolong kamu jangan lari dulu.
saya tidak berbahaya kali ini.
tidak, tolong kamu percaya dulu.
saya tidak macam-macam kali ini.

kali ini, saya meminta.
kali ini, kita berdamai.
kali ini, kamu mendengar.
kali ini, cukup sekali.

loh, Lara (s).

jangan, tolong kamu jangan lari dulu.
kamu tidak mengerti kali ini.
jangan, tolong kamu diam dulu.
kamu salah paham kali ini.

kali ini, tak ada 'aku'.
kali ini, tak ada 'kamu'.
kali ini, hanya ada 'kita'.
kali ini, cukup sekali.

hei, Lara (s).

kemari, tolong kamu jangan lari dulu.
kita harus sepakat kali ini.
kemari, tolong kamu mengerti dulu.
kita harus sehati kali ini.

kali ini, dengarkan.
kali ini, pahami.
kali ini, mengerti.
kali ini, cukup sekali.

Lara (s),

di mana kamu?

makin Indie makin nampol

gw gak perlu ngejelasin berulang-ulang tentang hal yang semua orang udah tau. tentang kenyataan bahwa band-band Indie Indonesia selalu JAUH lebih keren ketimbang band-band yang masuk label record. Jangan tanya gw kenapa, tapi emang itu faktanya. Waktu entah kapan, gw pernah ngobrol ama orang, kalo menurut dia...

"sebenernya bukan band-band label itu jelek, cuma mereka dipaksa untuk mengikuti tuntutan pasar. Masalahnya, pasar (masyarakat) menuntut mereka untuk membuat musik-musik begitu... jadi bukan salah merekanya juga."

dan gw agak setuju dengan pandangan ini. AGAK loh, soalnya ada beberapa band yang menurut gw emang bisanya cuma bikin lagu-lagu sampah begitu (Melayu mendayu-dayu dengan lirik galau-galau ga jadi dan kacangan). Cuma demi kelangsungan hidup dan nama baik, gak usah disebut nama bandnya.

Pandangan si orang tersebut, didukung juga oleh salah seorang musisi Indie yang lumayan gw kagumi. Musisi ini pada salah satu wawancaranya pernah bilang alasan kenapa dia gak mau masuk label gede, dan alasan itu gak lain dan gak kurang adalah karena

"...saya ingin mempertahankan jenis musik yang saya bawakan..."

dan emang musik yang dia bawain bukan suatu jenis musik yang umum, dan gw yakin emang susah masuk ke kuping masyarakat yang Melayu-minded. So... apa boleh buat. Walaupun emang agak susah untuk ngedapetin CD lagu mereka (band Indie) yang emang menawarkan 'musik' yang sebenernya, gw harus rela mereka tetep di jalur Indie. Soalnya kalo masuk label record gede, seperti kata musisi itu, ditakutkan malah para band Indie ini akan kehilangan jalur musik mereka dan terpaksa ikut kemauan pasar. Jadi mari, sekarang kita kenalan dulu yuk sama band-band keren yang berani untuk mempertahankan jalur mereka.

1. Tika and The Dissidents


sebenernya gw dengerin band ini dari 'kebetulan' saja. lagu yang gw denger waktu itu, daripada bagus, malah lebih ke arah membuat gw MERINDING. gw masih inget, gw denger lagu berjudul 'Tentang Petang' dan itu nadanya super duper gothic suram muram mengerikan. Tapi setelah kuping gw biasa, lagu itu malah jadi bagus, dengan lirik yang romantis juga. Setelah itu, gw coba-coba download album mereka ini, dan.... gw jatuh cinta (tapi gak gw gosok-gosok dan cium-cium tiap malem). Musik mereka yang suram itu menyihir gw, membuat kuping gw terlena... suara Tika (Kartika Jahja) sendiri emang BAGUS BANGET, enchanting yet wonderful.

This album is very recommended for those who love sulky, gloomy, yet romantic songs.

2. Andre Harihandoyo & Sonic People


kalo yang ini gw sendiri lupa darimana gw dengerinnya. tapi gw inget lagu mereka yang paling pertama gw denger dan langsung gw suka. yakni 'The Break Up'. nadanya ringan, dan menurut gw kayak lagu2nya RHCP sih sebenernya. Kalo gw boleh jujur, lagunya yang enak di kuping gw cuma satu... tapi dari segi musik, suara, dan tampil panggung... They're worth to watch and hear.

So Mr. Taxi Man... what are you waiting for?

3. Endah n Rhesa


kalo yang ini gw jg amsih inget, gw denger dari waktu refleksi kampret SMA gw. pertama-tama denger, gw kira ini lagu MYMP, berhubung Endah (vokalis) lafal inggrisnya bagus, dan suara dia beti gitu lah ama vokalisnya MYMP. lagu-lagunya Endha n Rhesa sebenernya sih gak gitu enak ya menurut gw... bukan jenis musik yang gw suka (kecuali When You Love Someone, gw rasa semua orang suka). Musiknya halus, ringan, intinya akustikan lah, dimana gitarnya Rhesa jadi satu-satunya pengiring dominan. gw gatau, tapi ini album sangat gw rekomendasiin buat lu yang suka sama musik-musik akustik. the play it well.

Sela

Aku lihat.

Kamu ada di sana sendirian. Seperti kalau aku melihatmu di tempat-tempat lainnya, kamu selalu saja berbeda, tampak mencolok dibandingkan orang lain di sekitarmu. Tanpa ada maksud menyinggung atau melukaimu sedikitpun, tapi kamu selalu tampak paling lusuh dan kucel. Cahayamu selalu tampak sebagai yang paling redup di antara yang lainnya, tetapi entah bagaimana caranya justru mataku selalu saja menemukanmu, dan menolak berpindah lagi.

Aku masih melihat.

Kamu yang tak sadar, dan masih tetap sendirian. Matamu terfokus hanya pada buku filsafat yang tengah kamu baca itu, seperti mataku yang masih terfokus pada sosokmu di sana. Rasanya lucu, mengingat kita berdua sama tenggelam dalam hal-hal yang bagi orang lain membosankan. Kamu dengan buku filsafat yang rasanya lebih cocok untuk mengganjal pintu ketimbang menjadi bacaan. Aku dengan kamu, yang kata mereka seperti sisi gelap matahari, tak terlihat dan tak tersadari. Aneh, dan aku menyukainya.

Aku terus melihat.

Kamu yang katanya tak seberapa itu. Memang kamu boleh menjadi sisi gelap matahari, yang tak akan dilirik oleh orang-orang, tapi aku selalu merasa nyaman tiap memandangmu. Kamu, berbeda dengan sisi terang matahari, membuatku merasa teduh. Cahayamu memang sedikit, nyaris mendekati tiada, dan mataku akan terus mencarimu yang seperti itu. Karena dengan dirimu yang seperti itu, aku belajar menikmati tanpa harus terluka. Cahaya yang terlalu terang bila lama dipandang, dapat menimbulkan luka pada mata. Kamu, ya, kamu. Dengan cahayamu yang pas-pasan saja, sudah menjadi titik ternyaman bagi mataku untuk memandang.

Aku tetap melihat.

Melalui sela yang hanya 5 cm, sudah cukup untuk memuaskan inginku. Dari balik buku-buku yang berjejer rapi, sambil pura-pura mencari sesuatu. Aku menikmatimu, yang suram, yang lusuh, yang tak pernah sadar.

Sampai nanti kamu mengangkat kepalamu, kembali menjejak tanah.

Sampai nanti kamu sadar, menatapku penuh tanya.

Sampai nanti.

Aku akan melihat.
saya bisa tulis ratusan puisi tentang kamu, tapi mengucap satu kata saja rasanya susah setengah mati.

Angan

saya peluk kamu
erat
sampai tak lagi menjadi 'kita'
tetapi menjadi 'saya'
atau menjadi 'kamu'
untuk kemudian tersadar
bahwa dengan imaji saya berpeluk

dan kamu?

angan.

alasan

saya tidak tahu apa yang membuatmu begitu menarik di mata saya.

padahal kata yang lain, mereka tak melihat apa yang saya lihat dari kamu.
(tapi biarkan saja, nanti kalau mereka lihat mereka juga suka)

"sebenarnya apa yang kamu lihat?"
saya tidak tahu

"katakan apa yang menarik darinya!"
saya tidak tahu

"lalu mengapa kamu menyukainya?"
saya tidak tahu
dan tidak perlu tahu untuk itu

seorang pernah bilang, kalau kita tak butuh alasan untuk jatuh cinta. sekarang saya pinjam kata-kata orang itu untuk anda semua yang bertanya. sebab saya juga tak punya alasan untuk mencintainya.

saya pikir anda semua benar. dia tidak tampan. tidak menarik. tidak ada bagus-bagusnya.

tapi saya suka.
dan saya tak butuh alasan untuk itu.

dan saya sudah puas dengan semua ini.

(dan tolong jangan buat saya mencari-cari alasan. saya tak memaksa anda untuk memahami rasa cinta saya, jadi jangan paksa saya untuk membuat anda paham.)

tentang Lara (s)

ini semua tentang Lara (s),

yang memakai topeng tertawa yang memakai topeng tersenyum yang memakai topeng ceria yang memakai topeng keceriaan yang wajahnya menangis.


ini semua tentang Lara (s),

yang punya dunia sendiri yang berisikan hanya satu titik yang dipandangi tanpa pernah berbelok yang terus mengejar walau terus menjauh yang tak pernah berhenti walau luka terus berdatangan.


ini semua tentang Lara (s),

yang hidup di masa lalu yang takut memandang masa depan yang takut melangkah maju yang takut untuk bermimpi yang memilih untuk berdiam yang selalu bermuram durja.


ini semua tentang Lara (s),

yang saya miliki satu-satunya yang tinggalkan saya sendiri yang kembali lagi pada saya yang kemudian pergi lagi yang kemudian menjadi milik saya lagi.


semua ini tentang Lara (s),

yang memendam lara dalam kesendiriannya