Surat Lara #1

Suatu tempat, 29 Februari 2012

Saya selalu ingat tentang hal ini kalu bertanya-tanya kapan kira-kira kamu sadar saya sangat suka sekali sama kamu.

34 tahun lagi.

Katanya, saya harus menunggu 34 tahun untuk bisa berdampingan denganmu. Lama sekali, sungguh. Tapi entah kenapa saya merasa saya bisa menunggu selama 34 tahun itu. Tapi bukan menunggu yang benar-benar setia. Saya tidak keberatan kok, sungguh. Mungkin selama 34 tahun itu, saya akan mengisi waktu dengan orang lain.

Mungkin saya akan menikah, punya anak, bekerja, menjalani hidup saya dengan senang dan bahagia. Suami saya juga seorang berkecukupan, baik, sayang keluarga, dan tidak mengekang. Anak saya akan sangat lucu (seperti adik laki-laki saya itu), pintar dan penurut. Singkatnya, saya akan punya keluarga sempurna, dan hidup yang diangan-angankan oleh orang lain. Tapi, saya akan tetap menunggu kamu.

Kelak, saat kita bertemu lagi, mungkin kamu sudah sangat berbeda. Kamu tidak akan menjadi sosok yang pernah saya puja sekarang ini. Tidak terbayang oleh saya sama sekali sekarang, tapi mungkin kamu menjadi seorang pria yang rapi, memakai jas dan bermobil mewah. Meninggalkan hidupmu yang sempat liar dan berantakan, dan mulai hidup yang rapi dan teratur. Saya akan bilang itu membosankan, tapi tidak berarti saya akan kehilangan minat padamu. Memang saya lebih berharap menemukanmu hidup seperti seniman, tidak rapi, tetapi sangat atraktif (seperti sekarang). Ketimbang jas kamu lebih cocok berpakaian kasual dan nyeni, ketimbang mobil kamu lebih cocok memakai motor besar (atau vespa), ketimbang menjadi businessman, kamu lebih cocok hidup nyeni. Tapi tak apa, seperti apapun kamu 34 tahun nanti, perasaan saya tidak akan berubah.

Saya memang aneh, bisa dengan yakinnya mengungkapkan hal ini padamu (dan cinta saya ini juga sebenarnya akan sangat aneh bila diketahui orang lain). Tapi, tolong percaya. Kalau misalkan nanti, setelah kita lama tak bertemu, kamu tiba-tiba sadar akan saya, dan rasa untuk saya, tolong jangan menyesal dan berduka saja. Datang, dan hampiri saya, lalu katakanlah. Saya selalu menunggu.

dari yang mencintaimu selalu,
Lara.

Ini Tentang...

"Selama belum ada tujuan, buat apa aku pindah?"

Lara berkata sambil menyulut rokoknya. Saya mengipaskan tangan mencoba mengusir asap yang perlahan mengepul di sekitar kami. Sesungguhnya, saya tak pernah menyukai Lara saat ia sedang merokok. Entah kenapa, dengan sebatang Marlboro di tangannya, sahabatku ini akan berubah menjadi pribadi yang defensif dan keras kepala. Padahal dia sebenarnya tidak begitu. Lara yang kukenal adalah Lara yang baik dan terbuka dengan segala pendapat. Tapi Lara dan Marlboro adalah Lara yang berbeda, Lara yang bukan sahabatku.

"Tapi, Lara, kamu tahu kan, di sini kamu tidak akan mendapat apa yang kamu mau. Coba kamu lihat dulu yang lain, siapa tahu kamu bisa dapat lebih dari yang..."

"Yang aku mau ada di sini." Lara memotong kata-kataku, dia menatapku tajam,"Kupikir kita sudah cukup membahas tentang ini dari dulu. Jawabanku tidak akan berubah, kawan.".

"Tapi, Lara! Kamu belum lihat yang ini!" aku mengeluarkan ponselku, dan menampilkan sebuah foto di layarnya,"Mungkin yang sebelumnya kutawarkan memang bukan seleramu. Tapi yang ini beda, kelas atas! Kamu akan menyesal melepaskan yang ini!".

Sahabtku hanya melirik sedikit ke layar ponselku, lalu menghembuskan asap dari hidungnya. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku sudah menghela napas. Tidak perlu kata-kata untuk menyatakan penolakan. Lara sungguh-sungguh saat bilang jawabannya tidak akan berubah, entah apapun yang kulakukan. Dia tidak akan menyerah, mau tidak mau harus aku yang menyerah. Kuambil kembali ponselku dari atas meja, dan kusimpan dalam tasku. Aku menghela napas.

"Kenapa kamu begitu keras kepala, Lara?" tanyaku lirih.

"Kupikir aku akan menanyakan hal yang sama padamu." sahabatku membalas tak acuh.

"Aku melakukan ini demi kebaikanmu."

"Lucu, aku juga melakukan ini demi kebaikanku."

"Kamu hanya membuang waktu di sini."

"Kamu juga hanya membuang waktu."

Lara mematikan rokoknya di asbak, lalu memanggil pelayan untuk memesan segelas kopi hitam lagi. Lara yang bukan sahabatku, rokok, dan kopi hitam. Kombinasi apalagi yang bisa lebih buruk dari ini? Sebatang Marlboro telah menyala lagi, aku melihat tembakau yang perlahan berubah menjadi abu dan asap, lalu menghilang entah ke atas meja atau ke udara. Kuhela napasku lagi. Air putih dingin di depanku sampai telah kehilangan dinginnya, saking lama dia lupa kusentuh. Semua kulupakan hanya demi Lara, yang ironisnya mengacuhkan aku seperti aku pada air dinginku.

"Kumohon berhentilah melakukan ini." kata Lara, "Kamu tahu kan, kamu hanya menyia-nyiakan waktumu."

Lidahku kelu, aku cuma diam dan menatap airku. Dingin yang hilang berubah menjadi butiran kecil di luar botol. Rasanya lebih menarik dilihat daripada Lara.

"Aku senang ada di sini. Aku tak perlu pindah." katanya lagi,"Dan kamu juga jangan memaksaku lagi. Kuharap ini jadi usaha terakhirmu, oke?"

Aku mengangkat muka dan menatap Lara dengan tatapan protes. Dia mungkin tidak sadar, tapi aku sungguh tahu di sini bukan tempat yang sesuai untuknya. Di tempat lain, dia bisa lebih berprospek, dan tempat lain juga mungkin lebih terbuka menerimanya. Mungkin jauh lebih baik ketimbang tawa sinis dan senyum melecehkan yang diterimanya di sini. Lara tidak menderita, tapi aku yang menderita melihatnya diperlakukan begitu. Aku harus memaksanya pindah, tidak perduli apa alasannya!

"Tapi, Lara..."

Sahabat yang bukan sahabatku menghembuskan asap rokok ke wajahku, membuatku terbatuk-batuk dan lupa dengan apa yang hendak kukatakan.

Aku tidak menerima bantahan, ucapnya tanpa kata, terima keputusanku entah kau setuju atau tidak setuju.

Aku menatap Lara dengan mata terluka, dan merah berair karena asap rokoknya tadi. Tapi dia tidak peduli, sahabat yang bukan sahabatku itu, dia terus merokok seolah dia tidak melakukan sesuatu yang salah tadi. Tidak ada kata yang tertukar lagi di antara kami. Dengan kesal aku meraih kotak rokok yang ada di hadapan Lara, mengambil sebatang dan menyalakannya.

Kali ini, biar aku yang berubah menjadi bukan sahabatnya. Kupikir aku ingin melupakan sahabatku sejenak.
saya juga tidak mengerti kenapa saya masih tidak berani menatap wajahmu biarpun cuma di dalam mimpi. sepertinya saya terlalu takut untuk menemukan sesuatu di matamu nanti. saya takut.

benarkah saya mencintaimu?

Candy to My Ears

Sekali lagi gw akan membahas tentang band-band Indie yg ada di Indonesia! di postingan gw yg pertama, Makin Indie Makin Nampol, gw cuma ngebahas sekitar 3 ato 4 band gitu kali ya. Sekarang bakal gw tambain lagi, band-band lain yang baru2 ini gw denger. Langsung aja, enjoy!

1. Melancholic Bitch




Gw dengerin band ini pertama kali gara-gara dengerin suara vokalisnya, Ugoran Prassad pas dia duet sama Frau di lagu "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa". Habis itu gw mulai googling tentang dia, dan ternyata dia punya band! Dan bandnya dia bernama Melancholic Bitch. Woohoo, I really love the name!.

Band ini ternyat aasalnya dari Jogja, dan tipe lagunya itu modern rock. Seperti tipikal band-band indie lainnya, lirik mereka juga sangat berbobot loh, dan lebih menjurus ke arah filsafat-filsafat gitu. Biar agak pusing tapi enak-enak aja dan bagus-bagus aja sih lagunya menurut gw.

Buat yang penasaran, silakan segera meluncur ke lastfm, dan search melancholic bitch! Mereka ngebagiin lagu-lagu di album pertama mereka, Anamnesis, secara gratis di situs itu. So, sebagai percobaan perdana, bolehlah diunduh dan didengar-dengar dulu. Siapa tahu kecantol "bisikan" mereka ini. Enjoy!

Buat yang mau tau kegiatan mereka, silakan banget di-follow akun twitter mereka @simelbi

Lagu Favorit : Tentang Cinta, Off Her Love Letter

2. Tika and The Dissidents

Mungkin gw udah pernah nulis tentang Kartika Jahja. Tapi yang gw bahas waktu itu adalah ketika dia bernyanyi solo. Sekarang gw mau bahas tentang bandnya dia, Tika and Tika and The Dissidents.


Secara musik, masih mengikut gaya Tika yang lagunya serem-serem keren itu. Musik sendu, tapi tidak semua, masih ada lagu-lagu yang pop dan tidak mendirikan bulu kuduk. Liriknya juga puitis-puitis absurd begitu, dan dinyanyikan dengan mistis oleh suara Tika yang keren itu.

Di luar musik yang keren, band ini juga personilnya ternyata koplak semua. Ada deh suatu ketika mereka pura-pura bikin twitwar (perang twitter) antar personil. Tentu semua fans mereka ketar-ketir. Tokoh antagonisnya itu si gitaris @igamassardi dan teman-teman personil lainnya. Jantung gw udah nyaris berhenti waktu akun resmi band mereka sampe ngetweet "Friendship tertindas ego... ya Tuhan lindungi band kami.".

Yes, gw udah parno aja ini band super cool bakalan bubar.

Eh ternyata eh ternyata, besoknya, tiba-tiba si Tika ngepos foto dia sama Iga lagi pesta piyama... dan ternyata benar saudara-saudara! Twitwar yang menegangkan itu cuma bercanda... Kampret.

Lagu Favorit : Tentang Petang, Clausnophobia, Waltz Muram
Follow : @suaratika

3. Sir Dandy Harrington


untuk makhluk langka satu ini, gw tertarik sama dia awalnya karena nama. Yes, gw penasaran penyanyi macam apakah orang bernama (sok) bule ini. Iseng gw googling dan dari situs Deathrockstar, dia ternyata vokalis dari band Teenage Death Star. Ya biarlah jenis apapun band itu gw gak terlalu tertarik. Gw cuma tertarik sama Sir Dandy doang.

Jenis musiknya... ga ngerti. Sori banget tapi gw emang agak bego untuk soal penjenisan musik. Buat gw, jenis musik itu cuma ada tiga. Orgasme kuping (enak banget parah ini musik surgawi), Enak (ya bisa diterima kuping), dan Pendarahan Internal (hamster gw nyanyi aja lebih bagus). Untuk Sir Dandy masuk kategori Enak menurut gw. Liriknya bukan yang puitis-puitis berat macem dua band di atas, tapi ya... berbobot. Gak cuma sebentuk repetisi hati yang galau.

Buat yang penasaran sama Sir Dandy ini, silakan banget download beberapa lagunya di Deathrockstar secara gratis. Kalo udah kecantol, silakan banget lagi beli albumnya, Level#1, yang mungkin bisa dibeli di tempat-tempat macam Ak'sa'ra atau tempat gaul lainnya. Selamat mencari!

Lagu Favorit : Gibson Atau Epiphone, Anggur Merah, Jakarta Motor City
Follow : @sir_dandy

Berhubung gw nulis ini belom mandi, jadi sekarang gw ijin mandi dulu. Cukup tiga ini dulu deh yang gw tulis. Nanti kalo gw udah menemukan yang asoy-asoy lainnya, gw tulis lagi. Untuk sementara, enjoy dulu aja! Tschuss :*.

Sing Me (no) Lullaby

Recently, I've been listening to songs that reduces my will to live. They make me very emotional, sometimes I thought about committing suicide... But it's just impossible.

I know I should stop, but I can't. These songs are killing me slowly, and I keep on listening to them. Here's the list.

1. Comfortably Numb (Pink Floyd)
This crazy psychedelic band really kills. I wish I were born on their era. The lyrics meant nothing to me, but the music...
2. Creep (Radiohead)
I'm not exaggerating, but this song might be forever in my playlist. The lyric kills, I felt it just... really me.
3. Paradise (Coldplay)
When I was just girl, I expected the world. But it flew away from my reach, so I ran away in my sleep. And dream of paradise.
4. Something About Us (Daft Punk)
A simple love song, with vocals less than 2 mins. But it's just epic. Love don't really need words.
5. Disorder (Joy Division)
I've been waiting for a guidance to take me by the hand. Where the hell is it?

Well, that's a few of it. Most of them are very popular, I thought you must have known these songs. But in case you never hear of it, I've linked them! Enjoy the songs!

Humans

Humans, humans, I love humans.
these idiots never fail to amuse me.
Cyanide and Happiness, a daily webcomic
Cyanide & Happiness @ Explosm.net

GAG!

2012 (lagi)

tahun lalu saya belajar banyak tentang melankoli. seperti saya sedang dihajar Pencipta untuk mencecap duka, menelan airmata, dan menoreh luka. mungkin karena saya terlalu banyak main-main.

2 tahun dirundung airmata.

bolehkah setahun baru ini saya diajar untuk berbahagia dan bersyukur?

2012

dengan ini saya nyatakan 2011 selesai.
jangan digali lagi, ya.

yang berlalu biarlah berlalu.

Kenangan

terkadang ada harapan
untuk bisa mengubur
tanpa pernah menggali kembali

supaya saya tidak perlu mengenang
karena kadang kenangan
cuma membawa duka

untuk kenangan yang
tak mampu dimiliki

randomisasi

saya ingat seorang teman pernah bilang, "cowok nyari cewek yang cantik.".

seorang yang cantik bilang, "bersyukurlah, karena muka kamu lucu :)."

tapi cowok nyarinya yang cantik...

saya jadi gak yakin kata 'lucu' itu memang serius atau cuma sekedarmenghibur, karena yang dibilang memang tidak ada cantik-cantiknya?

ketawa saja deh.

Hotaru no Haka (Grave of the Fireflies)


Awalnya gw tertarik nonton film ini karena gw lagi stress, dan gw butuh banget hiburan yang bener-bener menghibur di kala UAS gatau diri ini. Karena ngeliat satu post di 9GAG yang isinya tentang Ghibli, gw mendadak jd pengen nonton ini, padahal gw tau film2 Ghibli agak jarang yang menghibur. Tapi yaudah, gw langsung norrent, download, dan ga peduli sama UAS yang menghadang, gw nonton Hotaru no Haka ini.

Ceritanya tentang dua orang kakak beradik yang hidup di zaman PDII. Waktu Jepang masih sering kena serangan udara sama Amerika, waktu mereka hidupnya harus dipenuhi ketegangan, karena nggak tau kapan pesawat Amerika bakal muncul buat ngejatuin bom. Kakaknya cowok, umurnya belasan (gak jelas berapa, tapi mungkin 15 ke atas lah ya), namanya Seita. Adiknya, masih kecil (5 atau 7 tahun), namanya Setsuko.

Ceritanya berawal dari si Seita yang lagi sekarat, terus mati, mungkin karena kelaparan. Terus, tiba-tiba muncul si Setsuko, dan tiba-tiba juga, muncul Seita dengan rupa yang berbeda dari belakangnya. Setelah loading sesaat, gw baru ngeh, itu ternyata arwah mereka berdua. Kemudian, Seita dan Setsuko naik ke sebuah kereta, dan dari situlah, arwah Seita mengenang masa lalunya.

Sebenarnya, Seita dan Setsuko itu berasal dari sebuah keluarga yang lumayan kaya. Bapaknya seorang kapten Angkatan Laut (muncul cuma dalam bentuk foto ataupun kenangan) yang sedang bertugas di medan perang. Mungkin gaji tentara saat itu lumayan besar, jadi Seita dan Setsuko hidupnya enak. Suatu hari, serangan udara dari Amerika datang, jadi semua penduduk (lupa nama kotanya apa) disuruh mengungsi sementara ke tempat perlindungan. Seita beres-beres dulu, ngumpetin semua bahan makanan dan lainnya ke dalam tanah, sementara ibunya pergi duluan ke tempat perlindungan. Setsuko yang tadinya mau diajak, ngambek dan bilang dia mau pergi sama kakaknya aja, jadi akhirnya, ibunya pergi sendiri.

Ketika Setsuko dan Seita nyampe di tempat perlindungan, tetangganya ada yang nyamperin dan ngajak ngomong Seita berdua doang. Ternyata ibunya kena serangan, dan pas dikasih liat kondisinya... sudah tinggal menunggu ajal, sudah nggak bisa ketolong lagi. Akhirnya Seita nunggu di tempat perlindungan itu sampai ibunya meninggal, baru kemudian dia sama Setsuko pergi ke tempat tantenya.

Pertama-tama tantennya baik dan ramah, karena Setsuko dan Seita dia tau keluarganya lumayan tajir, dna juga pas dateng Seita ngebawa juga bahan makanan pokok yang sempet dia umpetin. Jadilah hidup mereka lumayan enak. Tapi lama-lama, bahan makanan itu habis, dan si tante mulailah bertingkah resek. Dia nuker baju kimono punya mamanya Seita dengan beras, mulai pelit soal urusan makanan di rumah itu, dan kemudian terakhir secara 'halus' mengusir Seita dan Setsuko dari rumahnya. Kebetulan di dekat daerah itu ada lubang perlindungan yang udah lama gak kepake. Seita yang kebetulan juga udah gedeg sama tantenya itu, langsung nurut dan akhirnya dia sama Setsuko pindah ke lubang perlindungan itu. Soal gelap nggak jadi masalah, Seita nangkep kunang-kunang sebanyak mungkin untuk jadi penerangan di dalem lubang perlindungan, dan itulah salah satu momen mengharukan di film ini.

Awal-awal, hidup mereka enak, ibunya ternyata ninggalin sekitar 7000 yen di bank, dan uang itu dipake sama Seita untuk ngebeli barang kebutuhan sehari-hari. Dua kakak beradik itu hidupnya senang-senang doang, main-main di pinggir sungai, dan melakukan kegiatan lain yang menurut gw agak absurd.

Hingga akhirnya duit peninggalan mulai menipis dan, hidup mereka mulai agak seret. Seita, demi memenuhi nutrisi untuk Setsuko yang masih dalam masa pertumbuhan, akhirnya menjadi pencuri, bahkan kemudian penjarah. Dia masuk ke rumah orang-orang saat mereka ngungsi untuk menghindari serangan, ngambilin barang-barangnya untuk dijual dan dibeliin makanan. Tapi ternyata hal itu nggak bisa memenuhi hidup mereka. Setsuko tetep kekurangan makan, jadi kurus ceking, badannya mulai luka-luka, dan akhirnya, ketahuan kalau dia kena diare. Dari situ segalanya jadi kacau. Seita nyolongnya makin gak karuan, ketangkep, dipukulin, untung dibebasin, tapi tetep gak bisa ngasih makan untuk Setsuko. akhirnya, dia bawa Setsuko ke dokter, nanya apa masalahnya. Ternyata adiknya itu kekurangan nutrisi. Dokter itu cuek banget, cuma bilang gitu, dan gak memberikan saran apapun untuk nyembuhin Setsuko.

Seita : "Only that? Ca you give her some medicine?"
Doctor : "Medicine? She doesn't need that, she needs food."
Seita : *shouting* "Food, huh? WHERE can I get food here!?"


Menyingkat cerita, keadaan Setsuko makin parah,akhirnya terpaksa Seita pergi ke Tokyo buat ngambil sisa terakhir tabungan ibunya. Di bank, dia denger berita bahwa Jepang udah nyerah, dan banyak tentaranya udah mati, terutama yang berperang di laut. Dari situ, dia tau kalau bapaknya ternyata sudah meninggal. Dalam keadaan sedih dan tertekan itu, dia pulang ke lubang perlindungan membawa bahan makanan lengkap, dengan harapan bisa menyehatkan Setsuko. Sayang, adiknya itu udah parah banget kondisinya. Pas dia masuk dan nyamperin Setsuko yang cuma bisa terbaring lemah, Setsuko mendadak nyuruh dia makan sesuatu, yang dibilang sebagai onigiri. Begitu Seita liat apa 'onigiri' itu, ternyata bola-bola tanah! Bahkan Setsuko juga ngemut kelereng, yang dia sangka sebagai permen. Halusinasi tingkat dewa. Seita akhirnya nyuruh adiknya istirahat sambil ngasih dia semangka buat ganjel perut, terus dia keluar buat masak ayam dan nasi yang baru dibeli. Tapi apa daya, begitu dia mau ngasih makan...

Setsuko sudah tidur untuk selamanya

Kematian Setsuko menjadi titik awal kepergian Seita dari lubang persembunyian itu, dan dia nggak pernah kembali. Setelah mengkremasi adiknya dengan barang-barang sumbangan dari petani yang dari dulu sering bantuin dia, dia pergi, entah kemana, entah ngapain. Jawabnya ada di pembukaan film itu, dia terdampar di satu stasiun, dan mati di sana. Film ini ditutup dengan arwah Seita dan Setsuko duduk bersama memandangi kota Kobe (ah, ternyata mereka tinggal di situ) setelah perang, yang sungguh berbeda keadaan dan penduduknya, dari waktu mereka hidup dulu.

Demi apapun, film ini sebenernya sangat menggelitik rasa kemanusiaan. Oke, gw males nulis, tapi kalau diliat dari reaksi dan dialog penduduk waktu melihat Seita menjelang ajalnya, ketauan banget orang-orang itu sudah hilang hatinya. Demikian juga dari dokter yang meriksa Setsuko. Hati manusia bisa lebih jahat dari makhluk apapun di dunia ini.

Tahun Tanpa Natal

menurut kepercayaan sebentar lagi Yesus akan lahir.
tapi tahun ini berbeda, mungkin dia belum akan lahir.

atau sudah lahir prematur?

Suntuk

belakangan ini Lara sedang suntuk
dia bosan dengan semua di sekelilingnya
yang baginya berjalan monoton.

semua sama saja, canda tawa, drama, dan semuanya
berjalan tanpa perubahan apapun.

Lara bosan, Lara suntuk.
ingin pergi mencari suatu yang baru, entah di mana entah ke mana
yang penting tidak monoton.

Lara muak dengan rutinitas.

mengapa manusia sulit sekali berinovasi?
tidakkah kamu pernah berpikir untuk jatuh cinta pada saya? harus bagaimana lagi supaya bisa... terbersit sedikit saja kemungkinan itu?
sekedar bertanya. kalau seandainya orang yang kaucintai memperlakukanmu seperti binatang, akankah kau akan tetap mencintainya, atau kau akan meninggalkannya?

(masih) Tentang Dia

Ceritanya berawal dari pertanyaan seorang teman.

"Apa sih sebenarnya yang bikin kamu suka sama dia?"

Sebuah pertanyaan yang saya sendiri bingung mau jawab. Tidak sepatah kata atau alasan pun yang muncul di otak. Kayak semua hal mendadak bercampur menjadi satu, tapi satu itu adalah suatu yang absurd. Saya tidak tahu namanya, dia ada, tapi tidak bisa dikenali. Daripada bingung dan menggantung pertanyaan, saya bilang saja saya tidak tahu.

Teman saya langsung berkata dengan suara lantang, "Kalau begitu, itu namanya cinta sejati!".

Saya termenung. Dia melanjutkan.

"Soalnya kamu suka dia begitu saja, tanpa ada alasan khusus. Tandanya kamu suka dia apa adanya, dia yang sebenarnya, tanpa harus menjadi apapun. Benar-benar cinta sejati!".

Entah kenapa saya mau tertawa mendengarnya. Cinta sejati? Gampang bener dia ngomong begitu, ketika saya sendiri bingung. Teori cinta sejati itu saya tolak mentah, saya masih belum bisa bilang ini cinta. Karena saya masih tidak mengerti.

Ketika tertarik dan mendambakan sosok yang entah mengapa kamu tahu tak bisa dimiliki, tapi kamu tidak mundur.

Ketika semua orang bilang sosok itu tidak seindah dalam kepalamu, tapi dia masih yang terindah bagimu.

Ketika sekedar senyum atau sapa saja bisa menejadi mantera pembangkit semangat.

Memang nyerempet definisi 'cinta' yang dikenal orang banyak. Tapi sebenarnya bukan, karena saya tidak mau dia bahagia. Tapi bukan obsesi juga, karena saya senang saja kalau dia jadi milik orang lain.

Aneh, bukan? Saya juga tidak mengerti.

Akhir Kata

Jadi sekarang saya akan mundur. Perlahan-lahan saja, saya akan menghilang dari hidupmu. Nanti kalau saya sudah lebih pantas untuk bersanding, dan setidaknya saya sudah lebih sedikit percaya diri, saya akan menemuimu. Saya harap apa yang saya harapkan bisa terjadi. Kamu tak perlu menunggu, karena saya tidak tahu akan berapa lama. Jalani saja hidupmu, lakukan apapun yang kamu inginkan. Saya akan tetap datang, setidaknya untuk menuntaskan apa yang belum dituntaskan.

Sampai berjumpa lagi, nanti.

Penjilat

semoga habis lidahmu dibakar api nafsumu sendiri

Hidup.

sudah dari dulu saya menyerah