Tentangmu

"Melankoli datang dari rasa tidak bisa memiliki..."*

Namun, Sayang, kau memiliki. Tapi apa yang kau kira telah kau miliki itu ternyata berbalik mengambil alih dirimu. Lalu melankoli itu datang kembali.

Memang, kau telah mendapatkan apa yang kau mau, tapi kau harus membayarnya dengan dirimu sendiri. Dan melankoli yang kini datang kembali, adalah suatu rasa tak bisa memiliki apa yang dulunya pernah menjadi milikmu.

Kau terjebak dalam lingkaran setan. Apapun yang kau pilih, melankoli akan terus memelukmu.

untuk seorang yang hidupnya terus dirundung masa lalu
seberapa pun usahamu lari
tapi selama kau masih menggenggam
(dan menolak mengakui)
kau tak akan lepas dari lingkaran setan

Coffee Toffee, 30 September 2013.
15.59

*Ayu Utami


Lara, Sayang

Lara, sayang
kamu bisa membeli semua puisi dan cerita
yang kamu inginkan
dan membacakannya padaku
seolah milikmu sendiri

Lara, sayang
ada yang menantimu
untuk mengisahkan padanya
semua puisi dan cerita
buatanmu sendiri

JumpFromPaper!

I really love bags, especially eye-catching bags.

Maka ketika menemukan brand ini dari majalah NYLON edisi Juli 2013, tidak ada hal lain yang bisa gua lakukan kecuali... terbengong-bengong. Sebelumnya, gua pernah selintas menemukan tas-tas model begini berseliweran entah di mana. Waktu itu, sayangnya, gua lupa dan nggak memberikan perhatian lebih lanjut. Gua cuma mikir, "Wow, lucu" dan udah, selesai. Tidak ada penelitian ataupun penelusuran merk apa, kisaran harga berapa, modelnya apa aja, dan lainnya. That WAS so STUPID.

Kemudian, di NYLON, gua menemukan merk ini, JumpFromPaper! dengan gambar seorang model memegang tas yang kelihatannya 2D, tetapi sesungguhnya 3D, like your everyday bag, but cuter. Tertarik dan penasaran, gua langsung menyelam ke situs aslinya, dan "menggeledah". They are such eye-candies.

Merk yang digawangi oleh mahasiswi komunikasi dari Taiwan ini, Rika Lin dan Chai Su, memiliki filosofi "born to enjoy life!". Well, they are. They even mentioned "...adds a sense of quirkiness to conventional bag designs". Who doesn't like something quirky and fresh? Setelah mencuci mata, di web, gua akan mempost beberapa desain yang sangat...sangat...sangat...ingin gua beli :

Afternoon Tea
Classic and pretty. I love the color and design very much. It does suit for moments when you are hanging out with your girlfriends, and having nice chitchat with some cups of tea.

Hola
A very fun and summery bag. White and orange color give a really fresh vibe. The size is also perfect for shopping or, maybe some business. Wear sandals, summer dress, and a big broad hat, then complete your look with a pair of vintage orange-y sunglasses. Vintage perfect 2D going 3D summer outfit!

Scooter
If I could ever buy the Hola, then I want my boy to use this Scooter. Very vintage, just like the name, it will suit very well with preppy boys. Love the color combination too. Anyway, this bag is from JumpFromPaper!'s Limited Edition, titled Time Machine. The next pick will also come from the same collection...

Martini
I don't really have things for handbags, especially small sized ones. It doesn't fit me, and I'm not a type of person who can just go with very few things. I have my tablet, phone, notebook, and blah blah blah, which can't be fitted into small handbag. But Martini, it's just, how should I put it, irresistible. I can make excuses just to have this bag. It's like something that jumped out right from a vintage comic. The color, the design, aaaah, lovely.

Jadi, itulah tas-tas yang membuat gua hilang kendali dan harus mati-matian merepresi hasrat belanja yang mendadak membuncah (haven't bought any shoes or bags lately, I'm suffering). Mungkin awalnya akan terlihat aneh dan janggal di mata orang-orang saat anda berjalan-jalan dengan memakai tas seperti ini. they will think like, "What is this weirdo doing, bringing a print-out bag picture just like that?", but when you take something out from the "print-out bag", they will be very amazed, and maybe some fashionistas will ask about where they can get the baby

Gawat, mulai delusional, bahkan gua belum punya tasnya tapi sudah membayangkan apa yang akan terjadi seandainya gua pergi membawa tas ini... well, it's alright, though. Imagination is limitless, and it's not a crime either. Jadi, apa yang kalian tunggu? Jangan segan untuk mencuci mata kalian dengan keimutan tas-tas di JumpFromPaper! ini, dan mari kita berdoa berjamaah supaya mereka shipping ke Indonesia.

xx

Lara, saya iri padamu. Biarpun kamu selalu bilang kamu tidak pernah merasa hidup, tapi kamu masih punya mimpi. Kamu adalah batu, tapi kamu bidadari dalam mimpi-mimpimu. Kamu bisa menari lincah, mengarung udara di saat kamu membatu bertahan menantang arus kehidupan.

Saya, Lara, mimpi saja tidak punya. Hidup nyata, batu saja saya bukan. Apakah saya? Apa juga itu hidup? Apakah saya hidup?

Menata Pikiran (Menjadi Tua)

Semenjak kuliah usai dan memasuki fase liburan, isi kepala ini menjadi tercampur aduk. Saya tidak bisa mengingat informasi apa ada di mana, darimana saya mendapatkan informasi ini, kenapa saya bisa mempunyai ingatan seperti ini, semua begitu teraduk-aduk hingga saya sendiri bahkan tidak mengerti apa isi kepala saya. 3 tahun yang lalu, di paruh ujung jenjang SMA, saya pernah membuat tulisan berjudul Ambang. Dalam tulisan tersebut, karakter utama sekaligus narator, bercerita tentang dirinya yang berada dalam suatu kondisi di mana ia hanya melayang. Tidak menyentuh atap, juga tidak menjejak lantai. Dia tidak berada di dalam kamar, tetapi juga tidak berada di luarnya. Dia berada di ambang. Suatu kondisi ketidakpastian, di mana memang tidak ada sesuatu yang berdiri tegak menjejak. Semuanya melayang, beterbangan tak tentu arah. Karakter utama menikmati keadaan itu, tanpa kepastian.

Sekarang saya adalah si karakter utama (sesaat rasanya saya seperti meramalkan keadaan saya sendiri), yang tak menjejak apapun. Hidup berjalan dengan campur aduk, di mana tanggal tak pernah berjalan, jarum jam hanyalah representasi dari pergerakan tak bermakna, demikian pula dengan terang gelap di luar jendela rumah. Tidak ada yang signifikan. Saya hidup dalam ambang, di mana semuanya adalah abstrak.

Pertama saya pikir akan terasa nikmat.

Tapi tidak.

Rupa-rupanya, pola hidup yang serba terstruktur dan serba pasti lainnya telah merubah pola pikir saya. Saya terbiasa menghadapi semua yang konkrit, pasti. Hidup abstrak yang saya impikan dulu semasa SMA, waktu semua terasa begitu pasti dan teratur, membuat saya tidak nyaman. Semua terasa aneh, hal yang berseliweran begitu saja, memori dan informasi yang muncul entah darimana tanpa saya mampu mengingat, begitu aneh. Begitu tidak nyaman. Saya tidak bisa hidup begini, saya harus menata ulang hidup saya, pikiran saya. Semuanya harus serba teratur, serba pasti dan rapi. Detik jam, setiap yang berlalu, adalah sesuatu yang berarti, pergantian tanggal adalah suatu bukti bumi masih terus berputar. Semuanya harus signifikan dan teratur.

Saya tidak boleh main-main dan cuek lagi. Waktu begitu berharga. Karena saya telah menjadi dewasa, saya bukan anak-anak lagi.

Saya telah menjadi tua.

Puncak Rindu

kilat lampu kota
suara roda yang menggilas rel

syukur yang kau tahu bukan

cinta di mataku
suara jantung yang akan meledak
Menurut Lara, hatinya yang berlapis-lapis itu lebih sulit untuk dilukai, dan hal itu membuatnya menjadi wanita yang kuat dan tegar. Karena dia tidak akan bisa hancur, tidak akan bisa dilukai. Pelapisnya boleh robek ataupun tercoreng, tetapi tidak hatinya. Masih mulus seperti batu marmer. Mulus, licin, dan dingin.

Menurut Florian, hati yang telanjang apa adanya itu adalah hati yang sebenarnya. Dia menjadi kuat, setelah berkali-kali dicoreng dan dibaret. Terbiasa untuk terluka, dan bangkit kembali dari kejatuhan. Hati Florian penuh luka dan baret, sedikit kenyal namun pejal. Berdetak hangat dan hidup.
Maka berbahagialah para orang-orang karbitan itu. Mereka tidak pernah punya pegangan yang tetap, jadi mereka tidak akan tahu apa rasa kehilangan yang sesungguhnya.

Berdoalah supaya cintamu juga cinta karbitan, jadi kamu tidak pernah tahu apa rasa patah hati yang sesungguhnya.
Semua orang mau dianggap spesial, jadi kenapa saya juga harus mau dianggap demikian? Apa yang membedakan saya? Saya sama saja dong seperti mereka yang mau dianggap spesial. Peduli amat. Yang spesial cuma makanan.
Akan ada titik di mana anda akan mencoba untuk menghilangkan segala rasa yang ada dan belajar untuk hidup dalam kehambaran. Ada baiknya bila sebelum segala sesuatu menjadi hambar, anda cecap baik-baik segala yang ada. Karena apabila nanti segala sesuatu berubah menjadi monton, akan ada sedikit kenangan tentang rasa yang berbeda, entah itu berupa lonjakan ke atas atau sekedar jatuh bebas ke bawah.

Nikmatilah sedikit rasa kemanusiaan sebelum anda berubah sepenuhnya menjadi robot.

Mengobjekkan Diri

Kemarin, ketika saya sedang mengunjungi sebuah pura di daerah Bogor, saya melihat begitu banyak orang yang membawa kamera saku, iPad, kamera handphone dan semacamnya, sibuk sekali mengambil banyak foto. Kalau foto patung yang ada di pura, atau foto alam di sana yang masih hijau, maka saya akan memaklumi, pemandangan itu jarang sekali ditemukan apabila anda berasal dari kota besar. Tapi yang sibuk mereka jadikan objek foto adalah dirinya sendiri. Pemandangan tersebut saya anggap sebagai sesuatu yang sangat aneh.

Saya pikir, sejak awal, manusia itu dilahirkan sebagai sebuah subjek, sebagai sesuatu yang memandang dan menilai. Apalagi setelah mereka memegang kamera, yaitu sebuah alat untuk menangkap gambar ataupun pemandangan - sebuah objek. Dengan memegang alat tersebut, menurut saya, kesubjekan manusia telah menjadi sesuatu yang absolut. Mereka adalah subjek, yang akan menangkap objek dengan menggunakan kamera. Begitulah seharusnya. Tetapi pada kenyataan yang saya lihat kemarin, justru malah banyak yang menggunakan kamera itu untuk mengambil gambar mereka. Menggeser status mereka sebagai subjek absolut menjadi subjek. Saya tidak bisa tidak heran, mengapa mereka, sambil tersenyum bahagia, mendegradasi diri mereka sendiri.

Dengan menjadi objek, maka seorang kehilangan hak dan kendali atas dirinya sendiri. Mereka menjadi sesuatu yang ditangkap, tanpa persiapan apapun dan tidak bisa menentukan dalam kondisi apakah mereka mau difoto. Lain cerita kalau anda menjadi model bagi orang lain, menurut saya itu adalah perjanjian antara subjek dan subjek yang dijadikan objek, tetapi dengan kesadaran sebagai subjek. Model sebagai objek bukan dalam kondisi objek tidak berdaya, tetapi sebagai objek yang diminta oleh subjek lain, dan untuk itu, dia masih memiliki hak kesubjekannya. Objek yang sekaligus subjek. Dia berhak menentukan gaya dan ekspresinya sendiri. Poin terpentingnya, seorang model menjadi objek bukan atas kemauannya sendiri secara cuma-cuma, tetapi atas persetujuan, dan dia mendapatkan keuntungan dari persetujuan tersebut. Bukan objek cuma-cuma yang tidak ada nilainya.

Poin yang hendak saya sampaikan, setelah melihat para objek cuma-cuma tersebut (orang yang terlalu sibuk menjadikan dirinya sebagai objek dan lupa akan adanya objek yang sesungguhnya), adalah lucu melihat bagaimana manusia dengan senang hati dan relanya menurunkan derajatnya sendiri. Pertama, dengan menjadikan diri sebagai objek dari kameranya, bukan lagi manusia yang mengendalikan kamera, tetapi manusia dikendalikan kamera. Orang jadi sibuk menyesuaikan diri dengan kameranya, sibuk menyusun posisi yang pas, sibuk memasang timer dan kemudian terburu-buru mengambil posisi terbaik (yang seringkali telat sehingga gambar keburu terambil sebelum dia dapat posisi yang pas). Mereka kehilangan hak sebagai subjek, dan malah jadi objek (yang mirisnya) dari sebuah benda.

Berbahagialah mereka yang masih punya kesadaran sebagai subjek, mereka bebas menentukan dirinya sendiri.

Tahun Baru

Selamat tahun baru, Lara
berjanjilah untuk tidak pernah berubah
untuk tidak menjadi seperti yang kebanyakan
yang berubah hanya pada tahun baru

kamu boleh berubah kapanpun yang kamu mau.

tidak perlu tahun baru.

2012

1. broke my heart twice.
2. found out lot of things about me.
3. failed my resolutions.
4. I suck this year.

Dari Lara.

Untuk hidup,

terimakasih sudah menampar saya bolak balik, mengangkat dan membanting saya jatuh terjerumus ke dalam tanah. Selamanya menunduk tanpa berani mendongak menatap langit.

Selamanya saya tidak akan berekspektasi apapun lagi.

Terimakasih sudah menampar dan menusuk.

dari Lara,
yang matanya terpaku di tanah.

Bloomington

I don't really know why, but the moment I saw this video (the song is Christina Perri's A Thousand Years), I thought this is more touching than the original film (that oh so stupid Breaking Dawn). Bloomington is a lesbian movie. I haven't watched the film yet, but I plan to.
The unreal me is my one and only salvation.

Setidaknya kalau ada Lara, saya tidak akan terjerembap. Kalau saya mulai oleng, dia akan menarik supaya tegak kembali.

Sayangnya belakangan Lara menghilang lagi di balik malam. Namun kali ini dia tak sempat mengucap apapun pada saya. Dia lenyap, begitu saja. Bahkan Bulan pun tak tahu dimana dia sekarang. Saya kehilangan pegangan.

Saya hilang keseimbangan.
Semakin lama Lara semakin aneh.
Dia bicara soal bicara tanpa subjek.
Tapi itu cuma berlaku untuk dirinya.
Dia tidak mau menjadi subjek.
Apalagi dijadikan.
Lara menolak menjadi subjek.

Semua orang pikir dia gila.
Ada yang bilang dia tidak masuk akal.

Tapi Lara masih bicara tanpa subjek.
Tanpa menjadi, ataupun dijadikan.

tak adakah yang mengerti?
ini cara saya ucapkan selamat tinggal
Lara, semakin lama semakin tak terlihat.
semakin tenggelam di balik tembok
yang dia bangun
untuk menutupi amarahnya
rasa malunya
rasa sakitnya

menutupi semua perasaannya.
Mungkin bila kata dapat berubah nyata, kukirimkan sejuta bayang untukmu. Supaya kau tahu kau tak selalu sendiri. Bila peluk dapat dikirim melalui jarak dan menantang waktu, kukirim sejuta untukmu. Supaya kau tak kesepian.

Kalau saya dapat selalu berada di sampingmu, maka biarlah itu yang terjadi. Karena kita sama tahu bahwa sendiri itu mengerikan.

Jangan bersedih, jangan juga mati. Tanpamu, apa jadinya saya?
Ketika Lara tidak lagi mencintai bulan, diapun mulai melupakan malam. Lalu iapun mulai berkelana mencari cinta yang baru. Pertanyaannya, bisakah seorang manusia jatuh cinta saat dia tidak lagi memiliki hati?